Lewati ke:
Terakhir diperbarui: 26 Februari 2026
Fakta Seputar Bruntusan pada Bayi
- Bruntusan pada bayi adalah kondisi yang sangat umum terjadi, terutama di bulan-bulan pertama kehidupan.
- Bruntusan pada bayi bisa muncul dalam beberapa jenis, seperti milia, biang keringat, jerawat bayi, hingga eksim ringan.
- Penyebabnya beragam, mulai dari saluran keringat tersumbat, penumpukan sel kulit mati, gesekan pada kulit, reaksi terhadap produk, hingga pengaruh hormon.
- Sebagian besar bruntusan tidak berbahaya dan dapat membaik dengan perawatan yang lembut serta menjaga kebersihan dan kelembapan kulit si Kecil.
Cemas saat melihat kulit si Kecil muncul bintik kecil yang terasa kasar? Kondisi ini biasa disebut bruntusan pada bayi, yaitu ruam halus berupa bintik-bintik yang muncul di area seperti dahi, pipi, leher, atau punggung. Bruntusan umum terjadi karena kulit bayi masih tipis dan sensitif, sehingga lebih mudah bereaksi terhadap keringat, gesekan, atau faktor lingkungan. Dengan perawatan yang lembut dan tepat, kondisi ini bisa membaik dengan sendirinya. Yuk, kenali lebih dalam jenis-jenis bruntusan dan cara mengatasinya di artikel ini.
Apa Penyebab Bruntusan pada Bayi?
Bruntusan pada bayi umumnya terjadi karena kulit si Kecil masih sangat tipis, sensitif, dan belum berkembang sempurna. Kondisi ini membuat kulit lebih mudah bereaksi terhadap perubahan suhu, kelembapan, gesekan, hingga produk yang digunakan sehari-hari.
Berikut beberapa penyebab bruntusan yang paling sering terjadi:
1. Saluran keringat tersumbat
Saat cuaca panas atau bayi terlalu lama berkeringat, saluran keringatnya bisa tersumbat. Akibatnya, keringat terjebak di bawah kulit dan muncul ruam halus. Kondisi ini cukup umum, terutama pada bayi yang aktif bergerak atau berada di lingkungan yang lembap.
2. Penumpukan sel kulit mati
Kulit bayi memang terus beregenerasi. Namun, pada beberapa kondisi seperti milia, sel kulit mati bisa terperangkap di bawah permukaan kulit dan membentuk bintik kecil. Biasanya kondisi ini tidak berbahaya dan bisa membaik dengan sendirinya.
3. Iritasi akibat gesekan
Area lipatan seperti leher, ketiak, atau paha lebih mudah mengalami gesekan, apalagi jika pakaian si Kecil terlalu ketat atau bahannya kurang lembut. Gesekan ringan ini bisa memicu iritasi halus yang terlihat seperti bruntusan.
4. Reaksi terhadap produk tertentu
Kulit bayi yang sensitif kadang bisa bereaksi terhadap sabun, deterjen, atau lotion yang kurang sesuai. Karena itu, memilih produk dengan formula lembut sangat penting untuk menjaga kenyamanan kulit si Kecil.
5. Pengaruh hormon
Pada beberapa bayi, sisa hormon ibu yang masih ada di tubuhnya dapat memicu munculnya bintik kecil di wajah. Kondisi ini umumnya bersifat sementara dan akan membaik seiring waktu.
Apa Saja Jenis Bruntusan pada Bayi?
Bruntusan pada bayi memiliki beberapa jenis dengan karakteristik yang berbeda, mulai dari milia, biang keringat, hingga eksim. Agar AyBun tahu langkah perawatan yang tepat, ketahui beberapa jenis bruntusan yang paling sering terjadi pada bayi berikut ini.
1. Milia
Mengutip Avila & Mendez dalam jurnal Milia (2023), milia adalah bintik kecil berwarna putih atau kuning yang sering muncul di sekitar hidung, pipi, atau dagu si Kecil¹. Jangan khawatir karena ini wajar terjadi karena kelenjar minyak bayi yang belum sepenuhnya matang, sehingga sel kulit mati ‘terperangkap’. Biasanya, milia akan hilang sendiri dalam beberapa minggu atau bulan.
2. Biang keringat (miliaria)
Biang keringat atau miliaria adalah kondisi kulit yang cukup sering dialami bayi, terutama pada masa awal kelahiran. Dalam jurnal berjudul Miliaria oleh Guerra dkk. (2024), kondisi ini terjadi ketika kelenjar dan saluran keringat tersumbat, sehingga keringat terjebak di bawah permukaan kulit².
Bayi, khususnya dalam dua minggu pertama kehidupannya, lebih rentan mengalami biang keringat karena kulitnya masih beradaptasi dengan suhu lingkungan. Biasanya, biang keringat tampak sebagai bintik kecil atau ruam kemerahan di area lipatan kulit seperti leher, ketiak, dada, atau punggung, terutama saat cuaca panas dan lembap.
3. Erythema toxicum
Erythema toxicum atau yang disebut juga erythema toxicum neonatorum adalah jenis bruntusan yang sering muncul pada bayi baru lahir³. Bentuknya berupa ruam merah kecil dengan ujung putih atau kuning yang kadang terlihat seperti bekas gigitan kecil. Meski terlihat mencemaskan, kondisi ini sangat umum terjadi dan tidak berbahaya.
Biasanya, bruntusan ini muncul dalam minggu pertama kehidupan dan hilang dengan sendirinya dalam 7-14 hari tanpa perlu pengobatan. Lesinya bisa berpindah-pindah di tubuh bayi, tapi biasanya tidak muncul di telapak tangan atau kaki.
4. Jerawat bayi
Jerawat bayi, atau yang dikenal sebagai infantile acne, mirip dengan jerawat pada orang dewasa, berupa bintik merah atau putih kecil yang sering muncul di pipi atau dahi si Kecil. Kondisi ini mirip dengan erythema toxicum neonatorum tapi bertahan lebih lama di kulit. Menurut Poole & McNair (2023), kondisi ini dipicu oleh sisa hormon ibu dan meningkatnya aktivitas kelenjar minyak⁴.
Jerawat bayi umumnya terjadi pada bayi berusia antara 6 minggu hingga 12 bulan, dan mayoritas kasusnya bersifat ringan hingga sedang. Kabar baiknya, jerawat bayi sering kali hilang dengan sendirinya tanpa perawatan khusus. AyBun cukup menjaga kebersihan kulit si Kecil dan hindari memencetnya agar tidak menimbulkan iritasi atau infeksi.
5. Ruam popok
Ruam popok, yang sering muncul sebagai bruntusan di area popok, adalah hal yang umum terjadi pada bayi⁵. Kulit bayi yang lembut dan sensitif memang membutuhkan perhatian ekstra, terutama di area yang sering lembap akibat penggunaan popok. Kelembapan, gesekan, serta paparan urin dan kotoran dapat memicu iritasi jika tidak ditangani dengan baik.
6. Eksim
Eksim, atau atopic dermatitis, adalah kondisi kulit yang ditandai dengan bruntusan, kulit kering, dan gatal, sering muncul di pipi, lengan, atau kaki bayi, terutama pada usia di bawah 2 tahun.
Menurut jurnal Current Perspectives on the Management of Infantile Atopic Dermatitis (2020), eksim pada bayi disebabkan oleh sensitivitas kulit, faktor genetik, dan paparan lingkungan tertentu yang memicu iritasi atau reaksi alergi⁶. Kulit bayi dengan eksim biasanya memiliki lapisan pelindung yang lebih lemah, sehingga lebih mudah kehilangan kelembapan dan rentan terhadap iritasi.
Bagaimana Cara Mengatasi dan Mencegah Bruntusan pada Bayi?
Tenang AyBun, bruntusan itu hal yang wajar kok, dan biasanya tidak berbahaya. Si Kecil akan tetap bintang kecil keluarga, meski ada bintik-bintik kecil di kulitnya. Nah, berikut ini beberapa tips praktis yang bisa dicoba supaya kulit si Kecil tetap halus dan nyaman:
1. Jaga kebersihan kulit bayi
Kulit bayi yang lembut dan sensitif membutuhkan perawatan ekstra untuk tetap sehat. Mandikan si Kecil secara rutin dengan air hangat, menggunakan sabun khusus bayi yang lembut seperti Zwitsal Hair & Body Bath Aloe Vera.
Sabun cair sekaligus sampo ini mengandung Prebiotic Moisturizer dan Ekstrak Aloe Vera, yang membantu menjaga kelembapan kulit bayi secara optimal. Formula hypoallergenic-nya aman untuk kulit sensitif dan bebas SLS serta SLES, sehingga cocok untuk penggunaan sehari-hari.
Setelah mandi, jangan lupa keringkan area lipatan seperti leher, ketiak, dan selangkangan dengan lembut untuk mencegah iritasi. Dengan menjaga kebersihan kulit secara rutin, si Kecil akan tetap nyaman dan terlindungi.
2. Gunakan pakaian yang nyaman
Pastikan si Kecil mengenakan pakaian berbahan lembut seperti katun yang mudah menyerap keringat. Hindari pakaian yang terlalu tebal, terutama saat cuaca hangat, untuk mencegah keringat berlebih yang bisa memicu biang keringat. Pilihan pakaian yang nyaman membantu menjaga kulit bayi tetap sejuk dan bebas iritasi.
3. Jaga suhu ruangan tetap sejuk
Bayi mudah berkeringat jika ruangan terlalu panas. Pastikan ruangan memiliki ventilasi yang baik dan suhu yang nyaman untuk bayi. Suhu ideal biasanya berkisar antara 20-22 derajat Celsius. Ini akan membantu mengurangi risiko keringat berlebih yang dapat menyebabkan bruntusan.
4. Rutin ganti popok
Jangan biarkan popok basah atau kotor terlalu lama menempel pada kulit si Kecil. Area popok adalah bagian yang paling mudah lembap dan tertutup, sehingga lebih rentan mengalami iritasi, ruam, bahkan bruntusan.
Rutin mengganti popok, terutama setelah bayi buang air kecil atau besar, membantu menjaga kulit tetap bersih dan kering. Setelah dibersihkan, pastikan kulitnya benar-benar kering sebelum mengenakan popok baru agar kelembapan tidak terperangkap.
5. Gunakan handuk dan pakaian yang bersih
Pastikan semua yang bersentuhan dengan kulit si Kecil, seperti handuk, pakaian, dan kain bedong, selalu bersih dan kering. Hindari penggunaan handuk yang lembap atau belum kering sepenuhnya, karena bisa menjadi tempat berkembangnya bakteri dan menyebabkan iritasi pada kulit bayi.
Rekomendasi Cream untuk Bruntusan pada Bayi
Saat kulit si Kecil sedang mengalami bruntusan, penting untuk tidak hanya menjaga kebersihannya, tetapi juga memperkuat lapisan pelindung kulitnya. Cream untuk bruntusan pada bayi dengan kandungan pelindung seperti Zinc Oxide dapat membantu membentuk barrier di permukaan kulit dan mengurangi risiko iritasi semakin parah.
Untuk kebutuhan tersebut, AyBun bisa menggunakan Zwitsal Daily Diaper & Rash Cream. Cream untuk bruntusan pada bayi ini diformulasikan khusus untuk membantu merawat dan melindungi kulit sensitif bayi dari iritasi ringan. Kandungan Zinc Oxide membantu membentuk lapisan pelindung pada permukaan kulit, sementara 3x Multivitamin Complex membantu menutrisi dan menjaga kelembapannya.
Krim ruam popok ini bisa digunakan secara rutin, bahkan sebelum tanda iritasi muncul, sebagai langkah pencegahan. Dengan formula hypoallergenic yang lembut dan telah teruji oleh dokter kulit, perawatan kulit si Kecil terasa lebih aman dan nyaman setiap hari.
Kapan Saat Harus Memeriksakan ke Dokter?
Sebagian besar bruntusan pada bayi memang tidak berbahaya dan bisa membaik dengan perawatan yang tepat. Namun, ada kondisi tertentu yang perlu mendapat perhatian lebih agar kulit si Kecil tetap aman dan nyaman. AyBun sebaiknya berkonsultasi dengan dokter jika menemukan tanda-tanda berikut:
- Jika bruntusan tidak membaik setelah beberapa waktu atau justru menyebar ke area yang tidak biasa, seperti kelopak mata.
- Bila bruntusan disertai dengan demam, bayi rewel terus-menerus, atau terlihat tidak nyaman, bisa jadi ada masalah lain yang perlu diperiksa. Kondisi ini mungkin menunjukkan adanya infeksi atau alergi yang lebih serius.
- Apabila bintik-bintik bruntusan mengeluarkan nanah, kulit di sekitarnya memerah, bengkak, atau terasa hangat saat disentuh.
- Jika setelah menjaga kebersihan kulit, mengatur suhu ruangan, dan menggunakan perawatan yang lembut, kondisi tetap tidak menunjukkan perbaikan.
- Bila bruntusan disertai kulit sangat kering hingga pecah-pecah atau bayi sering menggaruk sampai iritasi.
- Jika kondisi kulit membuat si Kecil sulit makan atau tidur karena merasa tidak nyaman.
Menjaga kesehatan kulit bayi memang membutuhkan perhatian ekstra. Jika AyBun melihat tanda-tanda di atas atau merasa kondisi kulit si Kecil tidak kunjung membaik, jangan menunda untuk berkonsultasi dengan dokter. AyBun dapat segera memanfaatkan layanan Free Teleconsultation dari Zwitsal untuk saran perawatan yang cepat dan tepat.
Bruntusan pada bayi memang bisa membuat AyBun cemas, tetapi umumnya kondisi ini ringan dan dapat membaik dengan perawatan yang lembut dan tepat. Tetap jaga kebersihan kulit, pilih produk yang sesuai untuk kulit sensitif, dan perhatikan setiap perubahan pada kulit si Kecil agar tetap sehat dan nyaman.
Referensi:
1. Patricio P. Gallardo Avila, Magda D. Mendez. 2023. Milia. Diambil dari https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK560481/
2. Karla C. Guerra, Alicia Toncar, Karthik Krishnamurthy. 2024. Miliaria. Diambil dari https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK537176/
3. Euripides Roques, Rebecca Ward, Magda D. Mendez. 2023. Erythema Toxicum. Diambil dari https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK470222/
4. Charla N. Poole, Vanessa McNair. 2023. Infantile Acne. Diambil dari: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK541124/
5. Anthonella B. Benitez Ojeda, Magda D. Mendez. 2023. Diaper Dermatitis. Diambil dari: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK559067/
6. Danielle R. Davari, Elizabeth L. Nieman, Diana B. McShane, Dean S. Morrell. 2020. Current Perspectives on the Management of Infantile Atopic Dermatitis. Diambil dari: https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC7652565/