Zwitsal | Dampak Bullying pada Tumbuh Kembang Anak

29 July 2017

Bullying

merupakan hal yang patut diwaspadai ketika si kecil sudah masuk sekolah. Bullying didefinisikan sebagai tindakan atau perkataan agresif yang dilakukan seorang anak untuk mempermalukan,  mengontrol, dan merugikan anak lainnya. Pelaku bullying biasanya adalah anak yang merasa lebih berkuasa dan ingin menguasai anak-anak lain. Anak seperti itu biasanya terobsesi dengan “kekuatan” akibat tontonan dan pola asuh yang kurang tepat. Sementara itu, anak-anak yang menjadi korban bullying umumnya memiliki sifat yang pemalu, pendiam, atau bahkan tampak terlalu menonjol di sekolahnya.

Meski bullying nampak seperti ledekan atau perkelahian biasa yang terjadi di kalangan anak usia prasekolah atau sekolah dasar, Bunda harus mewaspadai masalah ini. Bullying dapat mengganggu tumbuh kembang anak yang menjadi korban dan juga pelakunya sendiri. Bagi si kecil yang menjadi korban, praktik bullying bisa meninggalkan trauma dan ia pun akan merasa takut pergi ke sekolah. Berikut ini beberapa langkah yang bisa Bunda lakukan untuk mencegah si kecil menjadi korban bullying di sekolah:

  1. Bangun komunikasi yang sehat
  2. Selalu luangkan waktu untuk menanyakan aktivitas si kecil di sekolah dan mendengarkan ceritanya. Jika si kecil sudah terbiasa terbuka dengan Bunda, Bunda dapat lebih mudah memantau kegiatannya di sekolah dan memberikan pengertian tentang bullying, termasuk cara menghindari atau menanganinya.

  3. Bangun kepercayaan diri si kecil
  4. Si kecil harus memiliki rasa percaya diri yang baik, tapi tidak berlebihan. Ia perlu merasa berharga dan dapat melakukan sesuatu sendiri sehingga tidak terlalu minder dan pemalu. Namun, perhatikan bahwa rasa percaya diri si kecil jangan sampai membuatnya suka pamer dan provokatif karena sifat tersebut justru dapat menariknya menjadi sasaran bullying dan tidak disukai anak lain. Rasa percaya diri yang positif pada si kecil dapat dibangun dengan sering mengikutsertakannya dalam berbagai kegiatan di dalam dan di luar rumah.

  5. Latih kemampuan sosial si kecil
  6. Si kecil juga perlu belajar bagaimana ia harus bersikap dan berkomunikasi dengan orang lain karena ini merupakan salah satu hal penting dalam tumbuh kembang anak untuk mencegah praktik bullying terhadapnya. Melatih si kecil bersosialisasi bisa dimulai dengan mengajaknya bermain bersama anak tetangga, mengunjungi saudara, dan mengunjungi tempat-tempat baru.

  7. Ajarkan sikap tanggap dan berani
  8. Memiliki sikap yang tanggap dan berani dapat membantu si kecil belajar menyelesaikan masalahnya sendiri. Misalnya, ketika si kecil di-bully, ia harus tahu kapan ia dapat mengatasinya sendiri dan kapan harus melapor ke orang tua atau guru. Nah, dalam membantu mengatasi masalah si kecil pun Bunda sebaiknya harus tetap memerhatikan kemandiriannya. Anak yang tampak manja dan mendapat perlakuan over protective dari orang tuanya justru sering menjadi sasaran bullying yang semakin parah.

  9. Kenali sekolah si kecil Bunda perlu memahami bagaimana karakter sekolah si kecil, termasuk teman-temannya, guru, dan kegiatan sekolah. Bila si kecil melakukan kegiatan yang rawan bullying seperti olahraga atau camping misalnya, Bunda dapat memantaunya melalui guru dan teman dekat si kecil.

Itulah cara mencegah tindakan bullying pada si kecil yang bisa Bunda lakukan sedini mungkin. Dengan kerja sama yang baik antara si kecil, Bunda, dan pihak sekolah, efek bullying yang dapat mengganggu tumbuh kembang anak diharapkan dapat dihindari. Semoga informasi ini bermanfaat.   Sumber: parenting.co.id/usia-sekolah/cara%2Bcegah%2Banak%2Bjadi%2Bkorban%2Bbully crisisprevention.com/Blog/November-2011/10-Ways-to-Help-Reduce-Bullying-in-Schools ahaparenting.com/parenting-tools/safety/helping-bullied-child Diakses pada 1 Oktober 2016

Go to Top