Efek Positif & Negatif Bermain pada Otak Anak

29 July 2017

Problem solving serta kemampuan kognitif lain tidak dipelajari hanya di kelas saja. Bermain justru merupakan salah satu cara yang penting bagi perkembangan otak anak serta kemampuan kognitifnya. Melalui bermain, anak akan belajar dan memahami lingkungan dan dunianya, berinteraksi dengan orang lain, serta mendapatkan berbagai kemampuan lain yang membantunya untuk menghadapi dunia di luar rumah yang sudah ia kenal dengan baik. Tapi, bagaimana cara bermain mempengaruhi perkembangan otak anak? Neurosains telah muncul dengan beberapa pernyataan yang bisa menjadi penjelasan. Menurut Sergio Pellis, peneliti dari University of Lethbridge di Kanada, pengalaman anak saat bermain membantu mengubah koneksi antara neuron pada bagian depan otak yang berperan penting dalam kemampuan perencanaan, problem solving, serta mengontrol emosi. Tapi, perkembangan ini hanya terjadi ketika anak melakukan permainan yang melatih imajinasi, misalnya permainan di mana anak bisa menentukan peraturan mereka sendiri, merencanakan apa yang akan mereka lakukan, dan lain-lain. Kalau anak melakukan permainan ini dengan temannya, bagian otak yang berperan dalam interaksi sosial anak juga akan mendapat stimulasi. Tapi, permainan tak hanya bisa mengubah otak anak secara positif. Permainan tertentu juga memiliki efek negatif pada otak anak, misalnya anak yang memainkan video game yang mengandung kekerasan. Penelitian yang dilakukan Indiana University di Amerika Serikat membandingkan hasil pindai MRI pada 28 anak yang belum pernah memainkan video game yang mengandung kekerasan dengan hasil pindai MRI anak yang sama setelah mereka memainkan video game yang mengandung kekerasan setiap hari selama 1 minggu. Hasil pindai otak anak-anak tersebut menunjukkan bahwa bagian otak yang berperan dalam emosi mengalami aktivitas yang lebih sedikit setelah mereka rutin memainkan video game tersebut. Hal inilah yang dianggap menjadi alasan kenapa anak-anak yang sering memainkan video game seperti ini menjadi lebih keras dan kasar dibandingkan anak lain. Perubahan otak juga terlihat pada anak yang terlalu sering menghabiskan waktu di depan layar TV atau gadget lainnya. Para ahli neurosains menemukan bahwa terlalu banyak menonton TV akan mengubah struktur kimia otak dan meningkatkan produksi dopamine, yaitu bahan kimia otak yang menimbulkan rasa senang. Masalahnya, produksi dopamine secara berlebihan sering diasosiasikan dengan masalah ketergantungan, misalnya pada kecanduan gula dan makanan manis, bahkan kecanduan obat terlarang. Itu sebabnya anak yang terlalu sering nonton TV bisa tampak seperti kecanduan acara TV yang ia sukai. Bermain punya manfaat positif pada kecerdasan anak, seperti pada kemampuan problem solving anak, kemampuan kognitif anak, serta pada kecerdasan majemuk anak. Tapi, neurosains juga menunjukkan bahwa bermain juga bisa memberikan efek negatif pada anak. Sebagai orang tua, tentu saja Bunda harus cerdas memilah permainan yang baik untuk si kecil sehingga ia hanya akan mendapatkan manfaat yang positif daripada yang negatif.   Sumber: urbanchildinstitute.org/articles/research-to-policy/overviews/play-supports-early-brain-development-in-impressive-ways healthland.time.com/2011/12/02/how-playing-violent-video-games-may-change-the-brain/ breakingmuscle.com/family-kids/wired-kids-how-screen-time-affects-childrens-brains http://localhost/zwitsalold/kids/kids-1-month/822-bermain-untuk-kecerdasan-majemuk-anak

Go to Top